Jumat, 08 September 2017

WOW! Kok Ada Dunia Terbalik, Begini Ceritanya



Mak, kemarin saya berkunjung ke rumah Ibu, ada cerita baru tentang dunia terbalik. Saya yang penasaran ketika mereka menyebut “Itu lagi dunia terbalik kayak Aceng.” Saya dengan tingkat ke-kepoan yang lumayan tinggi, coba searching begitu sampai di rumah. Seandainya saja di rumah Ibu ada jaringan internet mungkin saat itu juga saya searching.

Ternyata ada sinetron yang berjudul Dunia Terbalik. Begitu saya ketikan keyword Dunia  Terbalik dalam google, yang keluar semuanya terkait sinetron tersebut.


Karena penasaran, apa sih yang membuat cerita tersebut berhubungan dengan orang-orang yang menjadi perbincangan di kampung. Saya buka wikipedia dan baca sinopsisnya. Saya hanya bergumam “Owh, begini toh ceritanya.”


Dari cerita sinetron tersebut terhubung dengan cerita beberapa saudara dan teman-teman di kampung. Mereka lebih merelakan istri yang bekerja di kota besar sebagai PRT. Sebenarnya tidak ada satu orang pun yang mau berada dalam posisi tersebut. Namun keterpaksaan karena terhimpit ekonomi yang membuat mereka melakukannya.

Ya, tidak ada yang menginginkan keluarga terpisah jarak dan waktu. Saya pun bertanya kenapa bukan suaminya yang kerja? Jawaban mereka adalah keterbatasan pekerjaan dan gaji yang sedikit mengingat mereka hanya lulusan Sekolah Dasar atau pun Sekolah Menengah Pertama. Dari gaji yang sedikit itu harus ada alokasi untuk kontrakan dan makan, tentu akan terkuras habis uang gaji yang hanya seberapa untuk keperluan sehari-hari. Tentu berimbas pada tidak bisa menyisihkan untuk menabung.

Berbeda halnya dengan istri yang bekerja, menjadi PRT tentu saja untuk makan dan bernaung sudah sekalian dengan tempat bekerja. Dengan gaji rata-rata 2 juta, bisa tersisa cukup banyak karena hanya terpakai untuk sedikit keperluan bulanan.

Ketika mengetahui alasan tersebut secara logika saya juga nggak keberatan. Meskipun terlihat seolah-olah suami tidak memberikan nafkah, karena seharusnya suami yang menghasilkan uang. Saya juga teringat tentang nasihat yang mengatakan bahwa rejeki keluarga bisa datang dari siapapun, termasuk istri. Oleh karenanya untuk istri yang berpenghasilan lebih tidak seharusnya jumawa, karena di dalamnya ada bagian untuk anak dan suami.

Para suami yang ditinggalkan bekerja juga tidak hanya makan tidur, tetap bekerja seperti biasa. Perbedaannya hanya menyiapkan semuanya sendiri, yang biasanya makan tinggal suap sekarang harus masak sendiri.


Ini salah satu realita kehidupan yang mirip dengan sinetron. 

14 komentar:

  1. Memang tanggung jawab mencari nafkah ada di tangan suami, tapi jika ternyata rejeki memang lewat istri..dibalik saja suami menurus rumah tangga. Tapi benar-benar harus komit..ya ngurus anak, masak, dll...Jangan sampai istri susah kerja..suami berfoya-foya bahkan cari istri muda..hadeh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, kalau yang di kampung saya banyaknya cuma ke jakarta atau bandung jadi per tiga bulan bisa pulang, dan pengiriman uang untuk suami biasanya seperlunya untuk bayar hutang. sedangkan untuk hidup suami, toh dia juga bekerja ... ini salah satu realita tentang hutang juga yang membuat mereka harus meninggalkan rumah

      Hapus
  2. Mantan PRT saya juga dulu beberapa begitu mba, suaminya di kampung, syukur katanya sih nyawah gak yang makan tidur doang.. cuma ya gitu konsekuensinya anak banyak dipegang nenek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, begitu memang kejadiannya di kampungku mbak. banyak terlilit hutang akhirnya mau tidak mau mereka terpisah. sawah dan kebun tetap terurus, hutang terbayar. begitu tujuannya

      Hapus
  3. Setiap keluarga punya tantangan sendiri ya mbak. Istri bekerja jauh mungkin karena tidak ada pilihan lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitulah mbak. banyak cerita dari kehidupan kampung.

      Hapus
  4. Serba serbi kehidupan rumah tangga ya mbak. Masalahnya berbeda tantangannya pun berbeda. Semoga merupakan solusi yang terbaik.

    BalasHapus
  5. Istri kerja capek suami pemalas banyaaakkk didunia.... Kasian istrinya beban pikiran dan nafkah juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, yang begitu juga ada. bersyukur yang saya ceritakan bukan yang seperti itu, mereka punya kebun, kambing, ayam untuk pekerjaan suaminya di rumah

      Hapus
  6. sinetronnya menyindir para suami yang hanya tadah tangan mengharapkan penghasilan dari istri. Dalam Islam yang wajib mencari nafkan adalah suami, sang suami udah masuk kategori suami dayus sebab membiarkan istri menjadi TKW pergi keluar negeri tanpa mahram

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mungkin seperti itu keadaanya ya mbak.

      Hapus
  7. Tempat yang seperti itu ada loh, yang seperti di sinetron dunia terbalik. Mayoritas perempuan didaerah itu menjadi TKW,dan bapak-bapaknya yang mengurus rumah tangga.
    Memang dalam kenyataannya, wanita lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada kaum laki-laki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini di kampung kelahiranku juga begitu, tapi yang TKW cuma 1-2 orang, selebihnya PRT ke Bandung atau jakarta.

      Hapus

Resolusi dan Introspeksi Diri

Desember segera berakhir, 2017 tinggal menghitung hari. Setiap bulan desember akan hits kata-kata resolusi. Setiap orang pasti memper...